Muhasabah Diri

Kadangkala terusik hati ini pabila 'disapa' dgn kepayahan hidup yang bagaikan duri menghiris hati dari yangEsa..Lantas tanpa kesedaran aku mencaci mengapabegitu percaturanNya, kemudian di sebalik keperitan itu ku pelajari jalan mengatasinya, matang fikiranku kerana ujianNya, luaspemandanganku walaupun sakit hanya seketika, SABAR , itulah yang paling bermakna..nikmatnya baru ku terasa...Di saat itu barulah ku ketahui, disebalik ujian ada kerahmatan, di sebalik kesusahan ada kemudahan, di setiap penderitaan terselit kasih sayangNya..Hebatnya Rabbul Jalil sedang kita tidak mengetahui....
There was an error in this gadget

Tuesday, May 10, 2011

Siapakah yang layak menjadi pemimpin?

Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasiti sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara.

Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang saudara yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan ahlinya.

Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.

Umar berkata kepada Abu Bakar, 'Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai'atmu.'
Abu Bakar berkata, 'Akulah yang membai'atmu.'
Umar berkata, 'Kamu lebih utama dariku.'
Abu Bakar berkata, 'Kamu lebih kuat dariku.'

Setelah itu Umar ra berkata, 'Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.'
Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.

Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, 'Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?'

Imam Asy-Syahid menjawab, 'Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’

Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta'alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil.


Ulasan:
1)seorang pimimpin tidak semestinya dia hebat segala-gala.Tapi dia seorang yg mampu pikul amanah dan tahan dgn ujian kepimpinan.

2)ahli mesti tawarkan kelebihan yg dia ada utk membantu para pemimpin menggerakkan pimpinannya.

3)pemimpin perlu menjaga tsiqah krn dia adalah lambang penyatuan pimpinannya.





copy paste dr Masjid At-Tarbiyah IPTHO sempena Pilihanraya Umum IPGKTHO..

No comments:

Post a Comment

Popular Posts